iTunesPermulaan iTunes
Lima hari kemudian, Apple mengumumkan bahwa mereka akan merugi pada kuartal itu akibat penurunan penjualan komputernya: ketika penjualan PC tumbuh sebesar 10 persen (menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi masih tumbuh), penjualan Apple menurun sepertiga dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kunci kegagalannya adalah mereka tidak memiliki drive ‘pembakar CD’ (CD burning) dalam sistemnya: revolusi musik digital sedang berjalan pesat, dan orang menggunakan Napster untuk bertukar file (secara ilegal) melalui jaringan universitas atau bisnis yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan koneksi dial-up yang pada saat itu sangat lambat. Orang juga ingin bisa membakar file MP3 mereka ke dalam CD audio. Jobs, yang memberi peringatan kepada analis tentang defisit yang akan datang, mengakui bahwa perusahaannya ‘benar-benar membuat kesalahan’ dalam hal ini. “Kami mengacaukannya,” katanya, lalu melanjutkan, “hal ini akan segera diatasi” dan “kami sedang mengembangkan perangkat keras baru yang mengagumkan, yang akan menegaskan kembali kepemimpinan Apple dalam beberapa kategori produk utama.”1
Dalam konteks retrospeksi, hal ini terlihat seolah-olah Jobs sudah bisa memprediksi bahwa proyek iPod akan hadir sebagai penyelamat Apple. Namun itulah retrospeksi, dan bahkan tidak 20/20; sebagai produk, proyek iPod bahkan tidak dipertimbangkan. Jobs sedang membicarakan laptop baru, dan pembaruan terhadap ragam produk lama dengan cara menambahkan pembakar CD.
Ketiadaan pembakar CD merupakan contoh kultur internal Apple saat itu yang benar-benar gagal mendengarkan keinginan konsumen. PC dengan kemampuan pembakar CD merupakan yang terlaris pada tahun itu, karena para produsen komputer sibuk memenuhi permintaan dari konsumennya untuk membuat CD musik mereka sendiri; di lain pihak, bisnis menyukai kemampuan menggandakan data dengan harga murah ke dalam medium yang akan bertahan secara efektif selamanya.
Jobs, yang terlibat dalam kesuksesan Pixar, sebuah perusahaan film animasi yang juga pernah ia pimpin, meyakini bahwa menonton film adalah hal yang benar-benar diinginkan orang—dan karena alasan itulah setiap mesin Apple dilengkapi dengan sebuah drive pembaca DVD. Hal itu adalah kemelesetan yang spektakuler. Namun dalam perusahaan itu tak tampak tanda-tanda perbedaan pendapat rencana perjalanan yang telah ditetapkan. Seorang karyawan yang pada saat itu ada di sana mengatakan pada saya, “Saya tidak melihat ketiadaan pembakar CD itu adalah sebuah kelemahan. Jika ya, seingat saya DVD drive pada umumnya juga berfungsi sebagai pembakar CD—yang disebut dengan combo drive.” Hal ini menunjukkan bahwa ingatannya salah. Apple membuat kesalahan karena pada tahun 1998 Jobs menolak ‘tray’ CD/DVD drive untuk konsumen baru iMac untuk mendukung ‘siot-loading’ drive halus yang menelan disk. la diperingatkan oleh Jon Rubinstein, kepala divisi produk perangkat lunak, bahwa hal ini akan menyebabkan sistem Macintosh tertinggal oleh PC dalam hal drive pembakar CD. Jobs tidak memedulikannya.2
Gayle Laakmann, yang pernah bekerja di tiga perusahaan (Microsoft, Apple, dan Google), mengatakan bahwa, dari tiga perusahaan tersebut, Apple adalah perusahaan yang paling top-down, walaupun sebenarnya para pengembang yang menulis kodelah yang paling memiliki pengaruh terhadap segala sesuatu yang akan terjadi. “Para pengembang perangkat lunak bekerja sama dengan manajer untuk memperhitungkan rencana pengembangan perangkat lunak, namun kami juga mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari Steve Jobs serta desainer antarmuka pengguna,” ia menjelaskan. Akan ada pertemuan berkala yang di dalamnya para manajer dan pengembang akan menunjukkan gagasannya, kemudian diberi tanggapan oleh Jobs. “Akan ada pertemuan berkala dengan Jobs dan biasanya Anda tidak bisa menentang perkataannya karena ia selalu benar, namun tentunya ada kesan intimidasi darinya,” kata Laakmann.
Jadi Jobs tidak mengerti pentingnya pembakar CD, dan Apple benar-benar membuat kesalahan. Dari semua mesin yang dirilis Apple pada tahun 2000, hanya Cube yang menawarkan pembakar CD—yang dirilis pada bulan Juli dan ternyata kurang laku di pasaran, dan setahun kemudian proyeknya ditunda. Namun, itulah yang mendorong tim senior Apple untuk sekali lagi melirik ke musik. Pada musim gugur di tahun yang sama, mereka memutuskan untuk fokus pada musik sebagai bidang dengan popularitas terluas—lebih luas dari kamera atau film — dan paling potensial untuk pertumbuhan. Sebagai langkah awal, Apple membeli produk bernama SoundJam yang mampu memutar MP3 dan membakar CD serta mampu berjalan dalam terobosan barunya.
Pada Januari 2001, Jobs meluncurkan strategi baru Apple: Mac akan menjadi ‘hub digital’, yang akan digunakan orang sebagai pusat penggunaan konten: mereka akan menyimpan musik dan video digital di dalamnya, dan menciptakan DVD menggunakan hub ini juga. (Penekanan terhadap film masih ada), la meluncurkan ‘iTunes’, produk SoundJam yang dikembangkan dengan signifikan, sebagai produk organisator musik digital barunya Apple. iTunes bisa menyalin (r/p) data CD ke format MP3 dan menamai lagunya .secara otomatis, memungkinkan para penggunanya untuk mengatur dan melakukan pencarian dalam library musik yang dihasilkan, dan bahkan Anda juga bisa membakar CD MP3 atau CD audio. Apple mulai mendengarkan keinginan konsumen.

Advertisements