Gizmo (Gadget), Tokyo
Walaupun strategi hub digital diluncurkan, para pimpinan Apple benar-benar menyadari bahwa mereka harus mengembangkan sesuatu untuk mendongkrak penjualan Mac yang menjadi satu-satunya sumber pendapatan nyata bagi Apple. Mac hanya terjual 659.000 unit pada kuartal keempat, angka terendah sejak 1998 dan sebuah penurunan yang dramatis bila dibandingkan dengan pertumbuhan kuat pada dua tahun sebelumnya. Mereka membutuhkan medan tempur baru.
Selain kepala desainer Jonathan Ivedan kepala keuangan Fred Anderson, semua tim senior Apple saat itu kalau bukan berasal dari NeXT Computer seperti Jobs, mereka diangkat pegawai olehnya ketika ia kembali. Mereka menjadi grup yang kompak dan mengerti bagaimana cara bekerja dengan Jobs. (Anggotanya sungguh tidak tergantikan selama sekitar satu dekade). Pada awal tahun 2001, mereka berkumpul dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan: apa yang kita butuhkan? Jawabannya: sebuah gadget yang akan terhubung ke hub digital mereka—Mac (dan hanya Mac)—dan menawarkan layanan yang akan didambakan setiap orang. Buat mereka membeli gadget-nya dan mau tak mau mereka akan membeli Mac juga. Mereka juga akan menjadi ketergantungan terhadap platform Mac karena gadget itu tidak akan berfungsi di Windows. Gadget itu akan menjadi bagian dari ekosistem Mac.
Sekarang yang harus mereka lakukan adalah menciptakan gadget-nya. Tapi apa?
Pada Februari 2001, pameran Macworld beranjak ke Tokyo, dan Rubinstein bertemu dengan teknisi Toshiba. Rubinsetein, kelahiran New York, setahun lebih muda dari Jobs, yang pernah memimpin divisi perangkat keras di NeXT, adalah seorang teknisi terlatih yang sangat berhati-hati ketika bicara dan juga sangat berhati-hati terhadap lawan bicaranya. Sebagai mantan karyawan Hewlett-Packard, ia memiliki pemahaman mendalam mengenai teknologi yang digunakan dalam peralatan konsumen, dari desain chip ke atas.
Oleh perwakilan Toshiba, kepadanya diperlihatkan drive kecil yang juga pernah diperlihatkan ke saya di kamar hotel di London dan ia pun diberi usulan yang sama. Video pra-kemas? Jam tangan? Dalam sekejap mata Rubinstein langsung beranggapan bahwa chip tersebut bisa digunakan untuk membuat pemutar musik—alat yang bisa terhubung ke Mac dan memaksimalkan hub digital. Malam itu, ia bertemu dengan Jobs dan mengatakan kepadanya bahwa yang ia butuhkan hanyalah penandatanganan anggaran dan ia bisa membuat gadget elektronik pertama untuk konsumen besar Apple.
Ketika Apple melihat calon rival di pasar pemutar MP3, tak ada tanda-tanda dari Sony, perusahaan yang telah menciptakan pemutar musik portabel Walkman, dan yang dihormati sekaligus ditakuti Jobs. Dan ada satu hal lagi: “Produk (saingan) kualitasnya jelek,” seperti yang dikatakan Greg Joswiak (yang kemudian menjadi kepala pemasaran produk iPod). Produk-produk yang ada, kalau tidak besar dan berat, pasti kecil dan terbatas, hanya bisa menampung data 32 MB atau 64 MB—cukup untuk menampung musik berdurasi 30 atau 60 menit—dalam flash memory yang mahal. Mengubah lagu-lagu yang tersimpan itu membosankan, karena kecepatan transfer USB 1.1 membutuhkan minimal satu menit untuk memindahkan data sebesar 20 MB. Pemutar musik yang lebih besar tak perlu ói-refresh terlalu sering, namun kecepatan transfernya yang lamban membuat Anda tidak menyukainya: memindahkan file satu gigabyte dapat memakan waktu satu jam atau lebih. Ketika beroperasi, hard drive-nya yang besar bisa menguras baterai dalam waktu satu jam atau kurang. Siapa pun yang pernah memasukkan beberapa data CD-nya ke dalam program seperti Windows Media Player atau iTunes (yang dapat mengonversi CD ke MP3 lima kali—atau lebih-lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk memutarnya) akan merasa bahwa pemutar musik kecil terlalu terbatas atau yang besar terlalu lamban dalam pemindahan data.
Namun, Apple memiliki solusi untuk mengatasi masalah kecepatan transfer: sebuah teknologi yang disebut FireWire telah dikembangkan oleh Apple untuk memindahkan video dari kamera film digital profesional. FireWire memindahkan data 30 kali lebih cepat dari USB 1.1.
Rubinstein memimpin program percepatan (crash program-me) untuk membuat iPod dengan mendatangkan bantuan dari luar, dalam bentuk seorang teknisi bernama Tony Fadell, yang telah menjalankan ide yang gagal tentang pemutar musik genggam di Silicon Valley, dan mendapatkan perangkat lunak dari perusahaan luar. Apple menandatangani kontrak dengan Toshiba dengan memberinya akses ekslusif ke hard drive kecil tersebut untuk waktu yang terbatas setelah peluncuran produk baru; tak akan ada seorang pun yang mampu menirunya. Klausulnya sedikit menginspirasi, terbangun di atas kesadaran bahwa yang membuat iPod spesial bukanlah kapasitas atau fitur teknisnya, melainkan dimensi fisiknya.

Advertisements