ipodDesain iPod
Proses desain iPod sangat kolaboratif. Salah satu contohnya yang paling impresif adalah scroll iv/iee/yang kemudian menjadi tersohor. Idenya digulirkan oleh Phil Schiller, sang kepala pemasaran Apple yang ramah, la telah merenungkan perihal cara-cara menavigasi semua lagu yang sangat banyak yang mampu ditampung oleh disk-nya. Bersama-sama dengan timnya, ia menemukan ‘scroll wheel’—yang tak hanya memungkinkan Anda bisa terus menelusuri daftar lagu sesuka Anda (karena ibu jari dapat digerakkan memutar secara terus-menerus), namun juga menggunakan perangkat lunak untuk mempercepat penelusuran daftar lagu, la membawa sebuah prototipe ke salah satu rapat desain, dengan lantang ia mengatakan: “l/W?ee/-nya merupakan antarmuka pengguna yang tepat untuk produk ini.” Ide scroll wheel untuk kontroler bukanlah hal ciri khas Apple; desainer setia Bang & Olufsen Denmark pernah menggunakannya, begitu pula dengan Hewlett-Packard (HP). Namun Apple memperhalus antarmukanya dan akselerasi scroll-nya menjadi jauh lebih impresif.
Peran Schiller dalam desain antarmuka pengguna iPod memberi gambaran betapa bedanya Apple dari perusahaan lain. Hal ini sulit dibayangkan; banyak, atau mungkin ada, kepala pemasaran internasional dari perusahaan lainnya yang akan berpikir dan kemudian meniru sebuah karya desain antarmuka yang begitu efektif, atau minimal mempertimbangkannya.
Banyak desain produk lain, seperti yang dikatakan oleh kepala desainer Apple Jonathan Ive, “tidak berusaha memberikan banyak manfaat terhadap perangkatnya—malah menjadikannya rumit dan oleh karena itu, lebih baik menghilangkan desain rumit itu.” Itulah sebabnya iPod tidak akan dilengkapi dengan FM tuner, Bluetooth, Wi-Fi, baterai yang dapat dilepas, cross-fading, penciptaan playlist on the move, atau spesifikasi-spesifikasi lainnya yang dianggap ‘penting’ oleh ‘para ahli’. iPod tidak didesain untuk memenangkan persaingan di dalam katalog.
Tim desain Ive fokus merancang iPod untuk memenangkan area lain: ketepatgunaan. Spesifikasi sebenarnya adalah bagaimana rasanya jika iPod ada dalam genggaman pengguna. Dan ia tahu bahwa ia hanya punya satu kesempatan untuk melakukannya dengan tepat. Setahun setelah peluncuran iPod, saya bertanya kepadanya tentang siapa desainer yang ia kagumi. Jawabannya: desainer satelit. “Jika Anda sekarang melihat bagaimana satelit dibuat—solusi formal yang harus menjawab serangkaian perintah, apa yang harus ada, apa yang tidak, bagaimana Anda merangkainya—ada banyak hal yang dikira orang tidak didesain secara sadar.” iPod pun begitu, akan diluncurkan ke ruang publik yang belum mengenalnya, dengan kemungkinan peluang untuk suksesnya hanya satu.
Setelah bentuknya ditentukan, elemen berikutnya adalah mewujudkannya. Tim Ive tidak bekerja dalam menara gading (isolasi intelektual yang tidak berorientasi duniawi); sebuah desain yang tidak bisa diproduksi secara massal tidak memiliki nilai bagi sebuah perusahaan elektronik yang berorientasi pada konsumen. “Para desainer Apple menghabiskan 10 persen waktunya untuk melakukan desain industri tradisional: mencari ide, menggambar, membuat model, bertukar pendapat,” kata Robert Brun-ner, mantan kepala grup desain Apple. “Mereka menghabiskan 90 persen waktunya untuk proses pengerjaannya, mencari cara untuk mengimplementasikan ide-idenya ” Ive bersikukuh dalam satu hal: tidak boleh ada celah di badan mesinnya—tanpa panel untuk mengganti baterai, tanpa ruang kosong. Ive menginginkan perangkatnya sehalus mungkin, seolah terasa seperti cairan. (Pengguna biasa tidak akan bisa mengganti baterainya ketika habis, seperti halnya semua baterai yang bisa diisi ulang. Namun, tim itu memperhitungkan, ketika hal itu menjadi masalah, akan ada produk baru untuk menarik pembelian baru.) Satu-satunya konsesi yang diperbolehkan olehnya adalah bagian buka-tutup yang terbuat dari plastik, di atas konektor FireWire di bagian atas mesin agar sambungan logamnya tetap bersih, la meminta headphone dan earbud-nya berwarna putih agar cocok dengan bagian depan perangkatnya, walaupun hal itu akan menambah biaya; membeli kabel dan earbud hitam yang biasa akan jauh lebih murah. Permintaan seperti itu sering kali menyebabkan percekcokan antara Ive dan Rubinstein, pemikir yang jauh lebih pragmatis dan berorientasi pada biaya, yang pada akhirnya ia menjadi penanggung jawab pengimplementasian desain Ive. Namun, Jobs menganggap Ive seperti belahan jiwanya, dan akan mendukung visinya sekalipun itu sangat memusingkan bagi tim perangkat keras.

Advertisements