microsoftPersidangan Antimonopoli
Ketika Ballmer mengambil alih, persidangan antimonopoli sudah berakhir. Temuan fakta-fakta persidangan telah dikemukakan.
Sumpah serapah telah berhamburan: Microsoft telah dinyatakan menyalahgunakan monopolinya di Windows untuk memperluas dominasinya ke bidang lain. Itu ilegal. Namun, tak ada hukuman yang dijatuhkan.
Persidangan tersebut, terutama kesaksian dan liputan pers, memiliki dampak besar terhadap kultur internal Microsoft. Para staf tetap beranggapan bahwa mereka adalah pemrogram terbaik di dunia. Namun tiba-tiba mereka tak mampu menarik para pemrogram andal lain yang ada di dunia. Alasannya bukan hanya dasar persidangan antimonopoli yang berlangsung sepanjang tahun 1998, dan ledakan bisnis dot-com pada tahun 1999 yang menjanjikan kekayaan yang luar biasa bagi para penulis kode pemograman yang pintar dan bisa mencari kendaraan di perusahaan yang tepat: “Dapatkan opsi saham Anda dengan harga murah, ketika bisnisnya terdaftar di pasar saham, Anda akan kaya, seperti mereka yang beruntung di Netscape dan Yahoo.” Namun, ada juga perasaan bahwa bekerja pada Microsoft berarti berkompromi dengan etika bisnis.
Di Microsoft pun, saat itu ada pencarian jiwa. Contoh awalnya adalah ketika rapat eksekutif tahun 1999, saat Gates dan Ballmer ingin mendiskusikan kondisi keuangan perusahaan, memeriksa kinerja, dan memetakan ragam produk selanjutnya—yang berupa ‘peta langkah’ (roadmap). Temuan fakta-fakta persidangan antimonopoli—terkait kebenaran tentang perusahaan yang terbukti di persidangan—belum diumumkan. Namun, Microsoft mendapat teguran di pengadilan; terutama Bill Gates yang terlihat mengelak dan arogan dalam rekaman kesaksiannya atas dakwaan David Boies.
Dalam rapat eksekutif itu, Orlando Ayala, yang saat itu menjabat sebagai kepala penjualan Microsoft untuk wilayah Amerika Latin dan Pasifik Selatan, mengatakan kepada para pimpinan eksekutif bahwa ia tidak ingin membahas masalah roadmap. Salah seorang peserta rapat ingat perkataan Ayala ketika itu, “Kita harus membahas mengenai nilai-nilai perusahaan ini. Saya tidak bisa bekerja di sini lagi jika saudara saya (yang tidak bekerja di Microsoft) terus menentang pekerjaan yang saya lakukan.” Peserta rapat menggambarkan hal itu sebagai upaya untuk ‘menghentikan proses pertumbuhan normal perusahaan dan berbisnis seperti biasa, dengan mengatakan bahwa kita harus mengubah kebijakan bisnis Microsoft’.
Peserta rapat itu kemudian mengatakan: “Kami mengatakan, ‘Tidak, kami tidak mau mendiskusikan hal itu (roadmap), karena saat ini kita sedang krisis dan kita harus mengumumkan apa yang kita perjuangkan sebagai perusahaan…’ Kami disebut penjahat; kebanyakan dari kami, kawan-kawan dan keluarga kami di luar sana, dihujani pertanyaan oleh khalayak: untuk apa bekerja di Microsoft jika perusahaan itu memang busuk?”
Para eksekutif Microsoft mengakui bahwa hal tersebut merupakan situasi yang ‘tidak nyaman’: “Kita semua mengakui kemampuan Microsoft dalam mengembangkan perangkat lunak andal yang dapat mengubah dunia.” Masalahnya adalah, di luar sana, orang-orang memandang Microsoft seperti sekelompok gangster, yang mengancam orang lain yang seolah-olah ingin membuka lahan yang berdekatan dengan wilayahnya. (Hakim Thomas Penfield Jackson, ketika berbicara kepada wartawan di bawah embargo* selama masa persidangan, mengisyaratkan bahwa tindakan Microsoft tidak ada bedanya dengan tindakan yang dilakukan oleh para pengedar narkoba atau geng pembunuh.)
Temuan-temuan fakta selama persidangan menunjukkan bahwa Microsoft telah melakukan monopoli terhadap sistem operasi PC; Microsoft bisa saja merekayasa harga lisensinya, tersimpan aman dalam rahasia sehingga nyaris tak seorang pun bisa menolak harga tersebut. Hakim Jackson merujuk pada sebuah studi internal Microsoft, yang dilampirkan dalam bukti, yang memastikan bahwa penetapan harga sebesar $49 untuk upgrade Windows 98 akan menghasilkan laba investasi yang wajar. Namun penentuan harga $89 akan memaksimalkan pendapatan dan membidik titik optimum kurva permintaan yang terlalu jauh, sehingga banyak calon pembeli akan tetap bertahan dengan apa yang mereka miliki. Hanya praktik monopoli yang bisa memiliki kekuatan penetapan harga seperti itu.
Catatan: isu diembargo berarti isu tersebut belum boleh dipublikasi sebelum waktu yang telah ditentukan, dalam hai ini hakim dilarang berbicara kepada publik karena proses persidangan belum selesai.
Monopoli, yang secara umum didefinisikan sebagai penguasaan 80 persen pasar atau lebih, bukanlah praktik yang melanggar hukum di Amerika Serikat; juga tidak akan menimbulkan sanksi. Namun menggunakan monopoli dalam satu bidang untuk memperluas atau menciptakan bidang lain adalah perkara ilegal dan dapat dikenai sanksi, jika monopoli tersebut dapat dibuktikan telah merugikan konsumen di salah satu atau kedua pasar yang dikuasai. Dengan menyaingi browser buatan Netscape yang mulai mengembangkan dirinya sebagai sebuah platform (sekalipun platform tersebut nyaris selalu berfungsi dalam Windows), dan menggunakan kendalinya pada Windows pertama-tama untuk menolak akses Netscape terhadap beberapa antarmuka pemrograman aplikasi (atau yang lazim disebut API) yang dibutuhkan Netscape untuk bisa berjalan di Windows 95, dan kemudian mengembangkan Internet Explorer dengan cara bersikeras dengan keinklusiannya—dalam rangka mengancam produsen asli (OEM) PC supaya tidak bisa mendapatkan lisensi Windows yang akan membunuh bisnis mereka—maka Microsoft dinyatakan telah melanggar batas.
Para pihak yang membidik tekanan yang dilakukan oleh Microsoft dengan Windows-nya untuk menghancurkan produk-produk lain di bidang lain, yang terdengar di persidangan, di antaranya adalah Intel, Sun Microsystems, Real Networks, IBM — yang ditolak untuk mendapat lisensi OEM Windows 95 sampai seperempat jam sebelum peluncuran resminya, sehingga kemudian kehilangan kesempatan penjualan PC—dan Apple. Secara khusus, Apple ditawari sebuah kesepakatan: berhenti mengembangkan sistem pemutar musik dan film pada Windows, dan biarkan Windows yang menanganinya dengan menggunakan sistem DirectX. Jika Apple setuju, Microsoft akan berhenti menghambat QuickTime buatan Apple untuk beroperasi di platform Windows. Steve Jobs, yang hadir dalam pertemuan pada bulan Juni 1998 itu, menolak usulan tersebut karena hal itu dapat membatasi kemampuan pihak ketiga dalam mengembangkan konten yang akan beroperasi dalam Windows PC dan mesin Apple. (Bila menilik balik sejarah, keputusan Jobs tersebut mungkin menjadi salah satu kunci kesuksesan Apple di kemudian hari, karena dengan demikian Microsoft tidak bisa mengontrol cara memutar musik yang dikembangkan oleh Apple pada Windows.)
Internet Explorer merupakan fokus persidangan, walaupun jumlah staf Microsoft yang mengembangkannya kian bertambah dari yang hanya segelintir orang pada awal tahun 1995 menjadi lebih dari seribu orang pada tahun 1999. Microsoft kemudian membagikannya secara cuma-cuma karena target mereka adalah tercapainya monopoli yang efektif (50 persen pasar browser bisa dikatakan layak, 80 persen ke atas adalah idealnya). Hakim Jackson melengkapi persyaratan yang diperlukan oleh trio itu untuk sebuah vonis monopoli, dengan menunjukkan bahwa itu akan berbahaya bukan hanya bagi perusahaan-perusahaan terkait, tetapi juga bagi konsumen. Mengapa? Karena dengan mengikat Internet Explorer ke Windows, “virus-virus berbahaya bisa dengan mudah menembus sistem melalui Internet Explorer untuk menginfeksi bagian sistem lainnya yang tidak ada hubungannya dengan penjelajahan web,” ucapnya.
Pasar modal tidak resah dengan temuan-temuan fakta tersebut; sebulan setelah publikasi itu, nilai saham Microsoft benar-benar melonjak dan mencapai puncak kapitalisasi pasar sebesar $612,5 miliar pada penutupan hari kerja di bulan Desember
1999. Pasar saham teknologi lainnya juga meningkat-meskipun ada sebuah analisis yang menunjukkan bahwa hal itu disebabkan oleh Hakim Jackson (seorang Republikan yang pro-bisnis) yang telah membuka jalan bagi perusahaan lainnya untuk mulai bersaing secara efektif.

Advertisements