Tags

, , , ,

billnsteveBill Gates dan Steve Jobs
Gates dan Jobs adalah kawan dan lawan lama. Beberapa dekade sebelumnya, mereka pernah kencan ganda dengan kekasihnya masing-masing. Lantas, apa pendapat Gates tentang ancaman dari Cupertino (markas Apple)? Pada Juni 1998, saat berbicara kepada seorang jurnalis, Mark Stephens (yang menulis dengan gaya lebih menawan seperti RobertXCringely), Gates termenung. “Yang tidak bisa saya pahami adalah kenapa dia mau mencobanya (ikut bersaing dalam medan laga yang sama -red),” kata Gates kepada Stephens. “Dia tahu kalau dia tidak akan menang.”
(Biasanya, Gates adalah orang yang akomodatif, sedangkan Jobs tidak. Stephens ditugaskan oleh majalah Vanity Fair untuk menulis artikel tentang hubungan antara Gates dan Jobs. Jobs menegaskan agar Stephens berbicara lebih dulu dengan Gates. Jobs kemudian tidak pernah bersedia untuk wawancara. Profil itu tidak pernah dipublikasikan. Lalu ada Chris Gulker, yang bekerja di Apple selama masa suram perusahaan tersebut dan memiliki beberapa pengalaman dengan Jobs, pernah mengatakan kepada saya (Penulis, -red) bahwa “Pada dasarnya Steve menganggap pers sebagai serangga pengganggu”)
Gates benar: tidak mungkin Jobs, atau Apple, bisa memenangkan perang untuk menjadi sistem operasi yang dominan pada PC. Microsoft telah berhasil memenangkan perang itu bertahun-tahun sebelumnya. Ketika jajaran eksekutif Apple sebelumnya mencoba untuk meniru Microsoft, dan melisensikan OS Mac—seperangkat program yang membuat komputer berperilaku seperti biasa (yang juga berfungsi sebagai DNA binernya)—ke produsen komputer lain, itu sama saja dengan memotong pergelangan tangan mereka sendiri. ‘Peniruan’ tersebut menurunkan harga Apple, mengambil pendapatan dan keuntungan dari penjualan perangkat keras. Pendapatan dari lisensi perangkat lunak tidak dapat menutupi laba yang hilang. Apple mulai kehilangan uang secara tak terkendali. Hal pertama yang Jobs lakukan saat kembali memegang kendali adalah mengakhiri kesepakatan ‘kloning produk’, tidak peduli dengan tuntutan hukum dan biaya yang ditanggung. Yang Jobs pahami, Apple tidak bisa bertahan hidup dengan hanya mengandalkan penjualan lisensi perangkat lunaknya. Hal itu baik untuk Microsoft yang diuntungkan dari skala produksi PC-nya. Tapi itu berbeda dengan Apple, yang harus membuat produk fisik dan tidak bisa menghasilkan uang dari menjual perangkat lunak yang terpisah dari perangkat keras.
Jobs tetap menganggap komputasi berada di jalan buntu. “Industri komputer desktop sudah mati,” katanya pada tahun 1995. “Era inovasi hampir berakhir. Microsoft mendominasi pasar dengan inovasi yang sangat sedikit. Tamat sudah. Apple kalah. Pasar desktop memasuki zaman kegelapan, dan akan berada dalam zaman kegelapan selama 10 tahun berikutnya, atau pastinya untuk sisa dekade ini.”
Mengapa Apple kalah? Kalangan ekonom dan ahli teori manajemen yakin alasannya adalah gara-gara model ‘integrasi vertikal’—yang terdiri dari rancangan mesin dan perangkat lunak —tidak bisa berjalan di industri komputer. “Perusahaan yang terintegrasi secara vertikal tidak dapat bersaing! Kontradiksi dari ‘pelanggan internal’ adalah racun bagi budaya kompetitif yang pasti selalu hadir di antara perusahaan. Ya, inilah pelajaran dari industri komputer,” kataTom Evslin, seorang pengusaha teknologi yang sudah berpengalaman. Teori manajemen dan ekonomi mengatakan bahwa integrasi horizontal—yaitu produsen PC bekerja membuat PC, sedangkan Microsoft membuat perangkat lunaknya—berarti pasar bisa dioptimalkan, volume produksi bisa dimaksimalkan, dan harga bisa dibuat serendah mungkin bagi konsumen.
Mungkin teori itu benar. Tetapi di saat yang sama, teori tersebut mengabaikan unsur-unsur lain yang lebih sulit diukur seperti pengalaman pengguna dan biaya sampingan. Tentu saja, kecemerlangan dan keberhasilan Microsoft dalam membuka platform Windows dengan mengambil referensi standar perangkat keras (yang awalnya dibuat oleh IBM), dan memastikan perangkat lunaknya berjalan pada platform tersebut sambil memberikan kemudahan bagi pengembang untuk membuat program yang berjalan di Windows, akan mendorong standardisasi dan menurunkan harga perangkat keras. Tapi, sulit dibantah bahwa Windows memang yang paling optimal—yang juga bisa diartikan bahwa Windows adalah sistem operasi terbaik yang pernah.dibuat untuk PC. Namun demikian, ada banyak orang yang bilang Windows itu cukup membingungkan para penggunanya dengan pertanyaan terhadap penggunaan standar. Misalnya saja, mengapa Anda harus mengklik tombol bertuliskan ‘Start’ padahal Anda ingin mematikan komputer? (Jelas, ini adalah hasil pengamatan yang telah menjadi begitu usang, sehingga hanya berlaku ketika Anda menjelaskannya kepada pengguna pertama yang masih menganggap hal itu sebagai sesuatu yang ganjil). Atau pertanyaan seperti ini: mengapa, setelah mengklik tombol ‘Start’, (dalam Windows Vista) Anda diberi pilihan 15 rute (melalui tombol fisik dan menu item) untuk mematikan komputer dalam empat cara yang agak berbeda: sleep, hibernate, power off dan suspend?
Risiko sampingannya juga tidak sepele. Windows 95, 98, ME, dan XP memiliki lubang keamanan yang menghebohkan; XP memiliki firewall pelindung, tapi dimatikan secara default, sehingga pengguna biasa (target pasarterbesar dalam pemasaran Windows) rentan terhadap serangan virus. Benar saja, virus ini pun datang dalam jumlah besar setelah hacker berhasil menemukan bahwa Windows adalah ladang berburu yang paling menyenangkan. Jumlah dan keparahan lubang keamanan yang ada di dalam produk Windows pun memuncak pada tahun 2002, ketika Microsoft menghentikan semua kegiatan operasionalnya demi untuk melatih para pemrogram bagaimana menulis kode komputasi yang lebih aman sebagai bagian dari inisiatif baru yang dinamakan ‘Trustworthy Computing’. Biaya virus dan malware lainnya bagi pengguna Windows, ditambah dengan efek samping kerusakan (misalnya rekening bank yang dirampok karena bocornya data pribadi) mencapai nilai hingga puluhan miliar dolar.
Walau demikian, pada saat Gates bertemu Auletta, sistem horizontal ini dianggap sebagai “bisnis Injil” sebagai suatu kebenaran abadi yang mungkin juga telah dimasukkan sebagai Perintah Tuhan yang ke-11.
Gagasan bahwa Anda bisa memerintah pasar komputasi dengan merancang segala sesuatunya sendiri—baik itu merancang perangkat keras maupun perangkat lunak—adalah hal yang cukup menggelikan. Teori manajemen mengatakan Anda tidak bisa melakukan itu. Windows adalah buktinya.
Tentu saja Steve Jobs tahu itu. Seperti kata salah seorang mantan karyawan Apple kepada saya (Penulis, -red), setelah mengikuti rapat dengan Cook: “Dia mengatakan, ‘Jika Anda kalah perang, salah satu cara untuk menang adalah dengan pindah ke medan perang baru/” Yang Jobs butuhkan adalah satu atau dua medan perang baru, yang memungkinkannya untuk memulai kembali perang melawan Gates dalam kondisi yang berbeda: medan perang yang akan ia menangkan.

//

Advertisements